By Rini Kusumawati
Dari berbagai postingan di dinding FB saya, ada salah satu postingan yang mengusik saya. Saya menulis ini untuk berkomentar atas postingan tersebut. Daripada saya mengotori dinding FB beliau (yang kemudian menuduh saya tidak bisa menghargai perbedaan), saya akan mencorat-coret laman blog saya ini.
Dari berbagai postingan di dinding FB saya, ada salah satu postingan yang mengusik saya. Saya menulis ini untuk berkomentar atas postingan tersebut. Daripada saya mengotori dinding FB beliau (yang kemudian menuduh saya tidak bisa menghargai perbedaan), saya akan mencorat-coret laman blog saya ini.
Postingan kawan saya
itu mempertanyakan kenapa ada peringatan Hari Perempuan. Dia khawatir nantinya
akan muncul peringatan Hari LGBT dengan mengatasnamakan kesetaraan. Saya tidak
tahu apakah komentar ini dilontarkan sebagai candaan atau komentar yang serius. Namun, bagi
saya, baik itu candaan atau serius, postingan ini mengelitik keperempuanan
saya. Seorang kawan perempuan kemudian menimpali bahwa peringatan Hari
Perempuan ini tidak memiliki esensi apapun. Dengan sedikit gemas saya memberikan
jawaban seperti ini:
Kawan perempuan ini kemudian menjawab dengan mengatakan bahwa emansipasi perempuan yang diawali oleh Kartini telah disalahartikan dengan "seolah-olah perempuan bisa menguasai dunia". Padahal, masih menurut kawan saya tersebut " ... maksud dari cita-cita Kartini…,
bukanlah demikian" (saya sengaja tidak memberikan screenshoot komentar beliau.
Namun, saya sudah menyimpannya sebagai arsip saya).
OOOKKKEEEE.... meskipun saya bukanlah seorang aktivis gender dan masih perlu belajar banyak tentang kajian yang berbasis gender... Ini adalah hal yang menarik yang perlu kita diskusikan: mengulas tentang Kartini, emansipasi perempuan dan perayaan hari perempuan. Saya akan menyampaikan pendapat saya berkenaan dengan hal ini (semoga nantinya bisa juga kembali nyambung ke masalah kenapa ada Hari Perempuan). Silakan untuk tidak setuju dengan saya dan saya akan menghargai setiap pendapat yang berbeda asalkan itu didasari oleh konsep yang jelas, dan mari kita berdiskusi.
Saya sangat setuju bahwa cita-cita Kartini memang telah
diplesetkan (meminjam istilah kawan tersebut). Namun, arah terpelesetnya,
mungkin kami tidak akan sepaham.
Semenjak saya kecil hingga saat ini, peringatan hari Kartini
selalu dikaitkan dengan perjuangan emansipasi perempuan dan dirayakan dengan berbagai perlombaan yang justru semakin menggarisbawahi
peran ma-telu (macak, masak, manak)
perempuan dengan mengatakan bahwa itu merupakan sebagian dari kodrat perempuan.
Tidak ada yang salah dengan peran tersebut. Namun, dua hal yang pertama itu
bukanlah kodrat perempuan.
Kodrat perempuan itu adalah peran yang melekat pada perempuan yang salah satunya (atau mungkin satu-satunya) berhubungan dengan fungsi reproduksi perempuan. Salah satu contohnya adalah menstruasi. Hanya perempuan yang bisa menstruasi, maka menstruasi adalah kodrat perempuan (Saya sih sebenarnya ingin laki-laki saja yang merasakan menstruasi, sehingga mereka bisa merasakan repot dan sakitnya ketika menstruasi menyapa. Tapi tidak mungkin, karena tubuh laki-laki tidak diciptakan untuk mengalami menstruasi). Kalau misalkan menyapu itu melibatkan fungsi reproduksi perempuan, maka menyapu adalah juga merupakan kodrat perempuan dan hanya bisa dilakukan oleh perempuan. Namun, karena kegiatan sapu menyapu hanya melibatkan tangan, maka, laki-laki yang juga dikaruniai tangan sudah pasti bisa menyapu juga. Demikian juga dengan pengasuhan anak. Sudah seharusnya kalau ini menjadi tanggung jawab bersama. Saya tidak
mau jika beban mendidik dan mengurus anak hanya jatuh di tangan saya sehingga
nanti, ketika ada salah asuh anak, maka hanya saya yang harus bertanggung jawab
penuh (Padahal ketika proses membuat anak, perlu peran aktif kedua belah pihak
(just an intermezzo)).
Kembali lagi ke emansipasi perempuan dan perjuangan Kartini. Saya pikir, menjunjung tinggi peran ma-telu seperti yang kita rayakan setiap tanggal 21 April itu bukanlah inti dari perjuangan Kartini. Menurut pemahaman saya, Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan supaya perempuan bisa memiliki pilihan selain mengemban
peran ma-telu tersebut. Silakan memahami kutipan di bawah ini:
“I have longed to make
the acquaintance of a “modern girl,” that proud, independent girl who has all
my sympathy! She who, happy and self-reliant, lightly, and alertly steps on her
way through life, full of enthusiasm and warm feeling; working not only for her
own well-being and happiness, but for the greater good of humanity as a whole”
(Kartini, 1921: p. 3)
Di bagian lain, kemudian dia menuliskan:
“… Oh… you do not know
what it is to love this young, this new age with heart and soul, and yet to be
bound hand and foot, chained by all the laws, customs, and conventions of one’s
land (Kartini, 1921: p. 3)”
Kutipan di atas berasal dari salah satu surat Kartini yang
ditulisnya pada tahun 1899 kepada salah seorang sahabat penanya Mejuffrouw
Zeehandelaar. Dalam suratnya tersebut, Kartini bergembira dan bersemangat
dengan datangnya masa pencerahan untuk para perempuan dan lahirnya “modern girl” dengan kebebasan dan
kemandirian mereka di Eropa. Dia, bisa dikatakan, iri dengan kemajuan yang bisa dirasakan oleh para perempuan di Eropa pada masa itu. Dia merindukan untuk bergabung dengan mereka dan
berpartisipasi aktif dalam gerakan emansipasi tersebut. Namun sayangnya,
Kartini masih terikat dengan adat istiadat dan tradisi yang masih kental
dipegang teguh di Jepara pada masa itu dengan mengatakan bahwa kaki dan tangannya terikat oleh aturan, tradisi dan adat istiadat di tempat dia tinggal.
Berkenaan dengan emansipasi, Kartini sudah akrab dengan kata tersebut sejak dia masih
kanak-kanak, meskipun ketika itu dia tidak bisa memahaminya dengan benar. Namun, dia bisa merasakan apa esensi dari kata tersebut, yaitu yang bercerita tentang kebebasan dan kemandirian. Silakan pahami juga kutipan ini:
“Even in my childhood, the
word ‘emancipation’ enchanted my ears; it had a significance that nothing else
had, a meaning that was far beyond my comprehension, and awakened in me an ever-growing
longing for freedom and independence – a longing to stand alone” (Kartini,
1921: p. 4).
Jadi, apakah dengan keingingan untuk bebas dan mandiri itu Kartini ingin menguasai dunia? Tidak, Kartini
tidak ingin menguasai dunia. Kartini ingin memeluk dunia. Kartini ingin
diberikan kesempatan untuk mempelajari dunia. Kartini ingin diberikan
kesempatan untuk bebas, untuk mandiri, kesempatan untuk mengekspresikan
dirinya.
Sekali lagi saya setuju dengan pendapat kawan saya tadi. Saya juga tidak berpikir bahwa gerakan emansipasi perempuan adalah
bertujuan supaya perempuan menguasai dunia. Kita hanya ingin diperlakukan sama
sebagai manusia seperti halnya laki-laki. Jika laki-laki bisa berkespresi
dengan bebas (sesuai dengan batasan norma yang ada, tentunya) tanpa takut
diberi cap sebagai “orang keblinger”, maka saya juga ingin mendapatkan hak
tersebut.
Ketika saya mengetik "women emancipation" di google, salah satu tautan yang muncul adalah "women's right" yang disediakan oleh wikipedia. Menurut Wikipedia (ya... ya... saya tahu bahwa untuk tulisan ilmiah tidak dianjurkan untuk mengutip dari Wikipedia :)), isu-isu yang diperjuangkan untuk kesetaraan hak-hak perempuan berkisar pada antara lain: hak untuk bebas dari kekerasan seksual, hak untuk pendidikan, hak untuk memilih, hak untuk memiliki property, dan lain-lain. Perjuangan untuk mendapatkan hak-hak tersebut yang kemudian mendasari pergerakan yang disebut sebagai emansipasi perempuan. Silakan cek tautan berikut ini.
Beruntung bagi kita, perempuan yang bisa mengakses
pendidikan tinggi sehingga ketika kita memutuskan untuk berperan di rumah dan
mendukung karier suami, kita sadar akan keputusan yang kita buat, bisa bertanggung jawab atas keputusan tersebut dan
mengemban tugas tersebut dengan cerdas. Namun, masih banyak perempuan yang tidak seberuntung saya dan kawan-kawan yang bisa mengakses pendidikan tinggi. Jika saya berjalan sedikit saja
beberapa kilometer dari rumah saya, di perkampungan pinggir sungai, maka akan
terdengar perbincangan bahwa anak gadis si A yang baru lulus SMP akan
dinikahkan. Atau ucapan “Aahh… kamu kan hanya anak perempuan. Ngapain sekolah
tinggi, nanti juga akhirnya akan kerja di dapur juga” akan sering terdengar
menyambangi telinga saya.
Jadi, apakah ini sudah sesuai dengan keinginan Kartini? Apakah
para gadis tersebut pernah mendapatkan pengetahuan bahwa dia juga berhak untuk
sekolah tinggi? Apakah gadis-gadis tersebut paham bahwa tubuhnya belum siap untuk mengemban kodratnya sebagai perempuan ketika usianya masih belasan? Saya pikir kok belum, ya. Ini yang masih harus kita perjuangkan.
Perjuangan untuk memberikan akses pendidikan kepada perempuan atau memanusiakan
seorang perempuan ini sudah berat tanpa harus mendapatkan perlawanan dari
kawan-kawan perempuan yang mungkin berkeinginan untuk mengembalikan peran
perempuan ke ma-telu yang saya sebutkan tadi. Apakah kalian akan berbahagia
bila eksistensi kita sebagai seorang perempuan hanya terbatas hingga pada peran macak,
masak dan manak? Jika di masa itu, Kartini merindukan "modern girl", maka tidak ada salahnya jika saya juga ingin ikut bagian sebagai "modern girl" ini dengan tidak membatasi pengetahuan saya dan peran saya dalam lingkup ma-telu.
Kajian Pustaka
Kartini, R.A. 1921. Letters
of a Javanese princess. Translated by Agnes Louise Symmers. London:
Duckworth and Co.
https://en.wikipedia.org/wiki/Women%27s_rights
http://www.internationalwomensday.com/About
